Bismillahirrakhmanirrakhim…
(taken from other’s blog)
Kita telah melewati satu babak baru dalam hidup. Kau pakaikanku, dan akulah pakaian bagimu. Tak ada lagi kini penghalang bagi kita setelah kau ucap lantang kalimat tanda halal di hadapan Abi dan penghulu. Tercatat 1 November 2012 kala itu. Amat bahagia. Pintu sunah-Mu Ya Rasul telah kita lalui bersama. Penantian yang berujung dengan indah. Maka nikmat Tuhan manakah yang kan kita dustakan?
Sangat terasa sekali bahwa kita telah bersama dalam tujuh hitungan purnama. Dibawah atap yang menaungi langkah kita selanjutnya. Penyatuan dua jiwa maupun raga. Realitanya, jalan kita tak selurus yang kita damba. Harapan dan mimpi kita tak bisa kita perhitungkan kapan kan menjadi nyata. Tentang impian dan kerinduan yang terus tertunda.
Kau tak pernah merasa bosan, apalagi terbersit rasa jenuh dengan keadaan ini. Sepi. Sepi dan sendiri dalam penantian terhadapku. Kau yang telah berupaya dan berkorban demi kesuksesanku. Kau yang tak pernah enggan untuk mendoakan aku di setiap sujudmu. Kau yang tak jua lelah menungguku. Kau yang menjadi inspirasi dan semangatku untuk terus berjalan. Tapi aku, bahkan aku telah begitu banyak sia-siakan waktuku. Bukan untuk tunaikan kewajiban pendidikanku, nyatanya aku terlalu banyak alasan untuk menutupi segala kebohonganku. Malu. Aku teramat malu. Aku yang telah gagal membahagiakanmu atas kemalasanku yang tak jua merampungkan pendidikan formalku. Maafkan aku, sungguh aku memohon maaf kepadamu.
Aku selalu ingat, keluhmu saat kau begitu merindukanku. Masih terekam jelas, desiran rindumu akan kehadiranku yang tak selalu ada di sisimu. Juga terngiang rintihmu, atas rindumu kepada dia, ananda sang jagoan yang akan menjadi sahabatmu kelak. Itu katamu setiap waktu. Pun tujuh purnama tak pernah bisa menghapus ingatan bahwa kita belum benar-benar dalam satu raga dan satu jiwa dalam ibadah kepada Yang Maha Cinta. Ya Alloh, ampuni hamba-Mu ini yang telah begitu lama memasung keinginannya. Hamba yang telah menyimpan hasratnya begitu lama. Ridhokah dia selama tujuh purnama ini?
Tak akan pernah bisa ku pungkiri, aku pun begitu merindukanmu, Ananda. Ananda penyatu jiwa raga kami. Ananda, doa yang selalu tersemat dalam setiap sujud kami. Maafkan kami Ananda. Maafkan aku…yang belum bisa hadirkan Ananda ditengah-tengah kita…
Tatkala impian dan harapan terpasung oleh kesalahan insan sendiri, sungguh batu pun rela jika ia harus terlempar untuk kepala insan yang tak jua bangkit dan berlari. . .
Dan aku patut merasakannya. Tak bisakah aku berjuang lantas membuktikan bahwa aku bisa melewatinya? Semoga kebahagiaan itu akan indah pada waktunya. Seperti dahulu yang berasa tidak mungkin lantas menjadi mungkin. Sekarang atau nanti aku pasti bisa mengenakan toga itu dan lantas akan kita hadirkan Ananda ke dunia.
Kami merindukanmu Ananda. Kami yakin kami akan siap menyambutmu ke dunia….Amin
Solo Rooftop Happiness,
18 Mei 2013, 20:58
Lilin Impian Harapan
